sedikit tulisan…
Jumat, 25 Mei 2007
Krrr…krrr…krrr… aku tersentak, terbangun oleh dering telepon di kosanku. Kubuka mata, kututup lagi, mencoba mengembalikan kesadaranku… Teeetttttt…!!!!! Kembali dikagetkan oleh bunyi bel kosan kali ini. Bunyi yang selalu membuat kami penghuni kosan terkaget karena kerasnya. Bosan, pagi-pagi sudah bunyikan bel. Siapa sih pagi-pagi buta begini sudah ada perlu dengan penghuni kos. Kucoba dengar siapa yang datang… Sepertinya penjual gas. Lagi-lagi.
Sungguh perasaan yang sangat tidak nyaman pagi ini.
Ada sesuatu yang membuat hatiku tidak bisa sukacita, entah apa. Aku bangun dari tidurku, duduk, masih di tempat tidur kesayanganku. Kuambil Manna Sorgawi, kucari renungan untuk hari ini, kulihat Jumat, 25 Mei 2007. Aku berpikir sejenak. Sepertinya ada sesuatu hari ini, tapi aku tidak bisa ingat apa itu. Mungkin sebentar aku akan ingat. Aku baca, renungan hari ini berjudul “Berhentilah Menangis”, penasaran, kubaca lebih lanjut. Ayat yang dibahas diambil dari 1 Tesalonika 4:13-18.
Wanita itu segera berdiri ketika melihat dokter bedah keluar dari ruang operasi, “Bagaimana dengan putraku? Apa semuanya berjalan lancar?” Dokter bedah berkata, “Maafkan saya. Saya sudah berusaha, namun tidak berhasil.” Dalam kesedihan wanita itu berkata, “Bagaimana mungkin anak kecil kena kanker? Apakah Tuhan tidak mengasihinya? Di mana Engkau Tuhan ketika anakku membutuhkanMu?” Lihatlah jasad putramu sebelum dibawa ke universitas,” kata dokter. Wanita itu pun pergi melihat jasad anaknya. Sambil menagis ia bercerita, “Menyumbangkan jasadnya jika ia meninggal adalah idenya. Katanya itu akan menolong anak-anak lain untuk memiliki umur yang lebih panjang. Anakku berhati emas, ia selalu memikirkan kepentingan orang lain.” Sang ibu pulang dengan hati hancur. Ia mendapati rumah yang sepi dan barang-barang peninggalan anaknya. Ia meraih bantal, membenamkan wajahnya dan menangis. Tengah malam ia terbangun. Di atas ranjang ia menemukan sepucuk
surat yang berisi:
“Mama, aku tahu engkau akan meridukanku. Aku pun merindukanmu dan akan selalu menyayangimu. Suatu hari nanti, kita pasti akan bertemu lagi. Tetapi jika mama ingin mengadopsi anak laki-laki agar mama tidak kesepian, itu tidak masalah bagiku. Ia boleh menempati kamarku dan memiliki mainanku. Tetapi jika mama ingin mengadopsi anak perempuan, mungkin mama perlu membelikan dia boneka karena mainanku semua mainan laki-laki. Mama jangan sedih memikirkanku. Aku berada di tempat yang indah dan menyenangkan. Kakek dan nenek menemuiku segera ketika aku tiba di sini. Mereka memperlihatkan banyak hal yang indah di sini. Yesus tidak tampak seperti kebanyakan gambarNya di bumi, tapi ketika aku melihatNya, aku segera dapat mengenali bahwa Ia adalah Yesus. Yesus membawaku menemui Bapa sorgawi. Dan mama tahu? Aku duduk di bawah kakiNya dan aku mengatakan padaNya bahwa aku ingin menulis
surat buat mama. Ia mengambil sebuah kertas dan tanganNya yang membantuku menulis
surat ini. Mungkin malaikat Gabriel yang membawa
surat ini untuk mama. Bapa sorgawi menyuruhku memberi jawaban atas pertanyaan mama. ‘Dimanakah Dia ketika aku membutuhkanNya?’ Bapa berkata bahwa Ia berada di tempat yang sama denganku.
Benar , Ia di sini bersamaku sebagaimana Ia selalu bersama-sama dengan anak-anakNya yang lain. Kankerku tidak ada lagi, Ma. Sudah dulu ya Ma, aku harus mengembalikan ballpointnya karena Bapa akan menuliskan sebuah nama di buku kehidupan.”
Terkadang kita pun bertanya-tanya dimanakah Tuhan ketika kita menghadapi kesengsaraan. Semoga renungan ini bisa menjadi jawaban bahwa ”Bapa tidak selalu mengangkat masalah dari hidup kita tetapi yang pasti Ia selalu menyertai kita dengan kasihNYa”
Aku berdoa, mencoba mendamaikan hati, coba kubuang rasa gelisah yang pagi-pagi sudah menyapa.
Turun dari tempat tidurku, melangkah ke arah pintu, kubuka, ternyata sudah lumayan terang di luar kamarku. Menuju washtafel, kuambil sikat gigi, kuberi sedikit pasta gigi, ritual pagi yang biasa kulakukan. Hal yang selalu kulakukan, berpikir selagi menggosok gigi. Akhirnya, aku ingat ini hari apa, hari ulang tahun tante kosku yang ke-89. How great?! Dahsyat, pemeliharaan Tuhan dalam hidupnya. Sampai saat ini beliau masih mampu melakukan pekerjaan rumah tangga. Huff, aku harus bergegas mengucapkan selamat. Kubasuh wajahku. Berdoa di kamar untuk tante kos, berharap Tuhan masih terus memanjangkan umurnya dan tetap beri kesehatan. Kucari tante kos. Ucapan selamat dan doa keluar dari mulutku sambil kucium pipi kiri dan kanannya. Dia tersenyum. Senyum dari seorang wanita tua yang sangat bersyukur sampai saat ini masih diberikan kesempatan hidup oleh Tuhan. Beliau mendoakanku juga supaya berumur panjang seperti beliau. Amin.
Kembali ke kamarku, mulailah kubuat blog ini. Entah mengapa, pagi-pagi sudah ingin berbagi cerita.
Semalam, setelah UTS pengling yang membuat mengantuk. Aku hubungi Nessa. Aku sadar, aku kangen. Kupeluk dirinya ketika bertemu. Rasa nyaman yang sudah lama tidak kurasakan. Yang aku tau aku ingin bersamanya malam itu, rasa kurang sehat juga yang membuatku mampu meninggalkan latihan Glorify-ku. Kami berjalan menuju gerbang depan. Aku merasa ada yang kurang, aku berpikir… Aku teringat Freddy. Ya benar. Aku kangen juga sama dia. Aku hubungi lewat HP, aku dan Nessa menunggu. Kami bertiga, akhirnya, setelah sekian lama, aku bisa berkata ‘kami bertiga’. Rasa rindu terhadap mereka berdua sungguh sulit kusembunyikan. Kugandeng mereka berdua mnuju mobil. Di rumah nessa, kami makan bareng, akhirnya makan lag masakan mba Ida(mba di rumah Nessa). Seperti biasa, aku dan Nessa mem-Vote Freddy untuk berdoa(kebiasaan kami sebelumnya), tapi entah kenapa doa Freddy malam itu berbeda dari doanya yang sudah biasa kami dengar, ada bagian yang dia hilangkan. Alasannya dia lagi mengantuk. Aku ambilkan sayur untuk mereka, kami makan, tertawa, meledek Freddy, hal biasa yang aku dan Nessa sering lakukan, hehe! Selesai makan, Nessa YM’an ma Erness. Aku dan Freddy masih di meja makan, mengobrol tentang penelitian kami yang hampir deadline… Argh,, tidak!!! Rasanya pusing memikirkannya. Lalu kami menemui Nessa. Akhirnya pertemuan kami ditutup dengan bertiga di depan komputer, YM’an dengan beberapa orang. Tertawa-tawa. Jam menunjukkan pukul 9 lebih, waktunya untuk pulang. Nessa mengantarku pulang, akhirnya, seperti dulu, Freddy sms, menyuruh kami missedcall dia kalau kami sudah sampai di tempat kami masing-masing. Rasanya, sudah lama, aku bersyukur kalau hubungan kami bertiga masih bisa dibangun kembali setelah semua yang terjadi. Aku yakin bisa. Harapan harus selalu ada. Malamnya, aku sms’an dengan Nessa, rasanya, sudah lama juga. Kami mau berusaha untuk mencoba kembali. Aku bilang ‘lupain semua kepahitan yang pernah kita alami’. Satu hal yang kami tidak bisa ingkari, kami masih saling sayang. Itu cukup menjadi modal untuk memulai ini semua lagi. Lagi. Lagi. Lagi. Aku tidak akan pernah berhenti berkata ‘lagi’. Aku tidak mau menyerah dan kalah. Saat ini aku punya kekuatan untuk membangun ini lagi. Semoga Tuhan masih memberikan kami bertiga waktu untuk tidak menyia-nyiakan anugrahNya yang begitu besar untuk kami tetap saling mengasihi.
Nessa… cc sayang kamu
Freddy… cc sayang kamu
Ribka sayang kalian berdua
– Satu Kisah 220507–
Aku bahagia. 1. Satu. Angka satu. Satu bulan yang penuh arti. Dan satu yang kuharap tidak akan pernah berakhir dalam hidupku. Akan tetap menjadi satu. Satu yang abadi. Satu di dalam kasihNya yang kekal. Satu yang kekal.
Aku menikmati satu kue coklat yang sungguh manis. Satu-satunya yang terasa lebih manis dari yang seharusnya. Dibumbui satu senyum. Satu senyum yang aku ingin hanya untukku selamanya. Egois. Tapi itu satu-satunya yang kuinginkan.
Begitu banyak kesalahan. Tapi aku tahu satu kebenaran. Aku menemukannya. Satu hal yang kutahu benar. Karena kulakukan dengan benar. Di dalam DIA Yang Benar. Terima kasih untuk satu kebenaran ini.
Harapanku. Satu keinginan. Semoga Tuhan benar-benar menjadikan kami satu. Dia satu untukku. Aku satu untuknya. Di satu hari nanti. Satu hari yang penuh bahagia. Satu hari yang penuh bunga dan rasa manis. Di dalam DIA Yang Satu.
Cukup untuk hari ini. Hari yang penuh berkat dan bahagia. Kuharap.
Ribka