Home sweet Home

Senin, 12 Juni 7—22.29 WIB jam HP-ku

Home Sweet Home

Perjalanan panjang yang melelahkan. Hariku dimulai dengan membuka mata dari tidurku. Seperti biasa. Kupandangi langit-langit kamar kosku. Udara dingin menyapu pipiku, menyebar ke seluruh tulangku. Malas. Kalau bisa, ingin tidur saja. Lagi. Namun ada satu alasan yang membuatku bisa melawan rasa malas itu. Cintaku pada-Nya. Aku harus saat teduh dan berdoa. Inti firman yang kubaca, ”Semua milik-Ku adalah milikmu”. Merenung lebih dalam. Kudapat sesuatu yang baru. Apa yang tidak diberikan oleh-Nya, sedangkan Anak-Nya satu-satunya yang paling dikasihi-Nya pun diberikan untukku.

Aku ingat, hari ini aku harus pulang ke Bogor. Kota kelahiranku. Tidak terlalu jauh dari Bandung. Hanya sejauh 4 jam perjalanan antar terminal(Leuwi Panjang-Baranang Siang). Kubuka pintu kulkas. Ada lauk dan sayur yang belum sempat kumasak. Dengan enggan kuolah juga bahan mentah itu. Entah. Tapi hasilnya tidak seenak biasanya. Mungkin itu hasil dari hati yang tidak sungguh-sungguh. Dering ring tone yang khas, menandakan Home memanggil. Kujawab panggilan telepon itu, kudengar suara mamiku di seberang sana. Aneh. Biasanya aku bersemangat menerima telepon mamiku, tapi kali ini itu tidak terjadi. Setelah selesai bersiap-siap, aku pamit ke tante kos dan mbak Wati, kupeluk mereka sejenak. Mereka sudah menjadi bagian dari hidupku.

Sebelum menuju Leuwi Panjang, kuputuskan untuk mencetak beberapa foto di Tirta Anugrah. Begitu penuh dan ramai. Selama 1 jam aku berada di sana tidak berarti ketika kulihat hasil cetak foto itu. Bagus. Aku tersenyum. Segera aku menuju terminal. Jam HP-ku menunjukkan angka 12.10 ketika aku duduk di dalam bis patas-AC jurusan Bandung-Bogor. Sekitar setengah jam kemudian bis baru keluar dari terminal. Benar-benar hari yang membosankan. Perjalanan terasa begitu panjang. Baru kali ini perjalanan Bandung-Bogor terasa begitu lama. Akhirnya, aku menginjakkan kaki di rumahku pukul 18.10.

Aku melangkahkan kakiku menuju kamarku. Akhirnya setelah 5 bulan aku bisa melihat kamarku lagi. Nyaman. Entah apa yang dilakukan mami terhadap kamarku, yang pasti terasa lebih nyaman dari sebelumnya. Bau rumah yang menyenangkan, tempat tidurku yang yang nyaman, halaman rumah yang penuh dengan bunga, canda tawa ketika malam tiba dan kami sekeluarga menonton TV bersama. Aku sangat menikmati waktu-waktu yang kulewati di rumah. Sungguh, tiada yang lebih menyenangkan selain tinggal di rumah sendiri. Meskipun rumah itu penuh dengan kekurangan dan bukanlah rumah mewah dengan banyak pembantu. Namun yang kutahu, cuma aku dan keluargaku yang ada di sana. Itu yang tak akan pernah terganti dengan apa pun.

Leave a Reply